Opening The Gates to 4G

IEEE Communications Society, Indonesia Chapter, will carry out a seminar to introduce the aspects of 4G Mobile Communication Technology & Business. Seminar will be conducted in Bandung, 21 November 2009, from 08:00 to 17:00. The speakers of the seminar, among others, are Kuncoro Wastuwibowo (chairman of IEEE Comsoc Indonesia Chapter), Arief Hamdani Gunawan (vice chair of IEEE Indonesia Section), and Muhammad Ary Murti (past chair of IEEE Comsoc Indonesia Chapter).

The topics will include:

Opening-The-Gate-to-4G

Registration fee is IDR 1.000.000 for professionals, IDR 500.000 for universities, and IDR 300.000 for students. 20% discount is applied to members of IEEE or MASTEL.

Webinar: Transforming NGN to Medianets

IEEE Communications Society Live Webinar: TRANSFORMING NEXT GENERATION IP NETWORKS INTO MEDIANETS. FREE Registration Is Open! Sign up here.

Meet increasing media demands and rapidly growing content volume with a new generation of exceptional, reliable, personalized, rich media experiences anywhere, anytime, and to any device. Video-enabled network solutions combine intelligent video technologies in the home, business, and service provider networks. Live panel discussion with viewer participation. Three expert panelists address the dominant media-aware technologies and services of next-generation IP networks. IP NGNs will locate video and rich-media intelligence throughout the network, enhancing capacity, performance, and user experience.

Moderator:  Steven Weinstein, IEEE Communications Society

Panelists:

Audio and slides will be IP webcast to participants who require a standard Web browser only. Questions taken through the reverse text channel. Mark your calendar, and register today: www.comsoc.org/webinar. Free access sponsored by CISCO. Recorded Webinar available after 23 September 2009.

IEEE P1902.1: Wireless Visibility Networks

IEEE telah menyetujui standard wireless baru: IEEE 1902.1™, “Standard for Long Wavelength Wireless Network Protocol,” yang merupakan peningkatan dari protokol jaringan visibilitas yang dinamai RuBee™. RuBee adalah protokol transceiver yang bersifat dua arah, on-demand, peer-to-peer, beroperasi pada panjang gelombang di bawah 450 kHz. Protokol ini bekerja pada lingkungan keras dalam bentuk jaringan ribuan penanda (tag) yang berjangkauan 3 hingga 17 meter. Standar ini diharapkan dapat digunakan dalam bidang kedokteran untuk menangani pasien; serta untuk penanganan aset berharga, fasilitas pemerintahan, industri penerbangan, pengelolaan persenjataan, hingga hal-hal lain seperti aset bergerak, dan peternakan :) .

John K Stevens, Ketua Kelompok Kerja IEEE 1902.1 mengatakan, “RuBee tags are ideal in situations where bandwidth is not an issue, but where low cost, high tag count, long battery life and use in harsh environments, such as near steel and water, are critical performance criteria.”

IEEE 1902.1™ menawarkan protokol yang real-time dan mudah dicari (menggunakan tag). Pengalamatannya mirip alamat IP dengan subnet yang terkait kepada taksonomi aset. Kecepatan data hanya 300 hingga 9,600 Baud. Jaringan visibilitas RuBee dikelola menggunakan router Ethernet saja. Tag bisa dikelola melalui web, dan jika diperlukan dapat dibuat tercari melalui mesin pencari (seperti Google) atau melalui server nama tag “.tag” dari Visible Assets.

Report 2008

IEEE Indonesia Section has recently submitted its annual report of the year 2008. Some of the activities mentioned that involved IEEE Comsoc Indonesia Chapter are:

IEEE Indonesia Section dan IEEE Indonesia Comsoc Chapter Meeting

WOCN 2008 (Wireless and Optical Communications Networks)

EECCIS 2008 (Electrical Power, Electronics, Communications, Control and Information)

IEEE Technical Tutorial on WiMAX

ICTEL 2008 ((International Conference on Telecommunications))

ASEAN Meeting

asean-ieee

Standard IEEE 1900

Awal Februari ini, IEEE Standard Association telah mengesahkan standar wireless IEEE 1900.4™, yaitu “Standard for Architectural Building Blocks Enabling Network-Device Distributed Decision Making for Optimized Radio Resource Usage in Heterogeneous Wireless Access Networks.” Standar ini menata pengelolaan resource pada blok-blok network dan perangkat wireless, serta informasi antar blok. paul Houzé, Ketua Kelompok Kerja IEEE 1900.4 melontarkan bahwa pada konteks network wireless ke depan, berbagai jenis akses radio (2G, 3G, B3G, Wireless LAN, dll) harus berjalan berdampingan (koeksistensi). Akibatnya diperlukan pengelolaan sumberdaya terkoordinasi lintas teknologi.

Standard IEEE 1900.4 merupakan bagian dari keluarga IEEE 1900 yang berisi berbagai dukungan untuk cognitive radio (CR), dynamic spectrum access (DSA), dan koeksistensi. Cognitive radio (CR) sering didefinisikan sebagai software-defined radio (SDR), yaitu saat perangkat radio mampu secara cerdas menentukan kebutuhan dan memilih sumberdaya radionya sesuai konteks. Sebelumnya, standard semacam WiFi (802.11), Zigbee (802.15.4), serta WiMAX (802.16) telah dilengkapi dengan level teknologi CR tertentu. Namun standard 802.22 akan menjadi standard internasional berbasis CR pertama. CR akan berkait erat dengan akses spektrum yang bersifat dinamis (DSA). Namun yang menarik tentu keterkaitan antara CR dan koeksistensi: pemilihan sumberdaya yang menentukan jenis akses radio sebuah komunikasi.

Kelompok kerja yang berfokus pada Dynamic Spectrum Access Networks (DSA) ini disebut IEEE Standards Coordinating Committee 41 (SCC41). Komite inilah yang mengerjakan standard IEEE 1900. Beberapa bagian dari standard itu adalah: IEEE 1900.1 menyusun konsep next generation radio systems dan spectrum management. IEEE 1900.2 merekomendasikan praktek koeksistensi dan interferensi. IEEE 1900.3 (target Feb 2011) mengevaluasi sistem radio dengan DSA. IEEE 1900.4 menyusun arsitektur sistem yang memungkinkan optimasi sumberdaya radio dalam jaringan heterogen. Kumpulan standard ini (lihat gambar) akan memungkinkan pengelolaan spektrum bersama antara jaringan yang paham CR dan yang belum paham CR.

p1900

Network reconfiguration management (NRM) berkomunikasi dengan terminal radio management (TRM) membentuk interoperabilitas antara jaringan2 radio tanpa infrastruktur. Perangkat yang komplian pada 1900.4 memungkinkan rekonfigurasi network dan terminal yang berikutnya memungkinkan pemindahan yang seharusnya tak terasa (seamless).

Direncanakan akan ada 1900.5 yang membahas bahasa policy, dan 1900.6 untuk RF sensing. Standar lain yang juga akan sudah mengadopsi soal CR, DSA, dan koeksistensi adalah 802.22 (Sep 2009), 802.19, 802.16h, 802.16m (atau disebut juga WiMAX II atau WiMAX next generation, Des 2009), serta 802.11y (Des 2009).

DLP Prof Mehmet Ulema

Baru seminggu masuk tahun 2009, Chapter telah melaksanakan salah satu kegiatan rutin: menyelenggarakan distinguished lecture. Lecture kali ini mengambil tema Network & Service Management, dengan lecture Professor Mehmet Ulema dari Manhattan College.

DLP dilaksanakan selama dua hari, yaitu tanggal 7 Januari 2008 di Kampus Institut Teknologi Telkom, Bandung; dan tanggal 8 Januari 2008 di Kampus Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Profesor Ulema membawakan lecture bertemakan Network Management (NM).

Dalam lecturenya, Prof Ulema mengingatkan bahwa NM lebih merupakan sebuah seni daripada sains. Nilai seni NM terasa saat kita melakukan integrasi berbagai sistem. NM juga merupakan bidang yang bersifat multidisiplin, meliputi bidang teknik elektro, komputer, matematika, operational research, ekonomi, dan tentu management.

Mula2, dipaparkan berbagai dimensi NM, baik dari jenis network, fungsi, stage, dan aspek lainnya. Kemudian dikaji berbagai standar NM, dari ITU (TMN), IETF (berbagai versi SNMP), ISO OSI (CMIP), dan lain-lain (TMF, OMG, OSF, DMTF, dan metode-metode NM yang tercakup dalam standar-standar IEEE, 3GPP, hingga (G)MPLS/ASON). Kemudian, diperdalam juga berbagai model standard itu; dari TMN dan arsitektur lengkapnya (logika, informasi — SMI dan MIB, fungsi, fisik), pendalaman MIB sendiri, dan MIB II, ke SNMP hingga SNMP v3 dan rencana versi SNMP berikutnya, RMON, dan arsitektur NM yang praktis, hingga ke produk-produk NM yang ada saat ini (baik komersial maupun open source), MPLS, IPv6, 3-play, NGN, dan ditutup dengan trend-trend ke depan (autonomic computing etc).

Baik di ITT maupun Binus, kuliah diikuti puluhan mahasiswa dan staf akademik. Umumnya peserta berperan cukup aktif dalam perbincangan, baik di dalam maupun di luar forum.

Chapter Meeting 2008

IEEE Comsoc Indonesia Chapter Meeting telah terselenggara pada tanggal 19 April 2008 di RDC Tower, kompleks Telkom RDC (Research & Development Centre), Bandung. Meeting ini dibagi atas dua sesi, yaitu officer meeting, yang kemudian diikuti member meeting. Officer meeting, berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00, membahas kembali pengawakan organisasi, rencana pembentukan cabang siswa (student branch), penyusunan sub-section yang akan dikembangkan menjadi section, dan action plan 2008.

Sementara officer meeting berlangsung, member mulai berdatangan. Peserta adalah Member dan Senior Member yang berasal dari UI, ITT, Univ Pelita Harapan, Univ Trisakti, LIPI, Tritronik, Telkom, dan institusi lainnya.

Setelah makan siang, Member meeting dimulai dengan opening speech dari wakil Telkom sebagai host, yaitu Mr Wiseto dari Telkom RDC. Beliau berbagi info tentang rencana pengembangan network dan service di Telkom, termasuk yang tercakup dalam INSYNC2014 (Rencana NGN Telkom). Speech ini diakhiri dengan ajakan kerjasama dalam penelitian dan pengembangan dalam bidang infokom, sesuai bidang pengkajian yang diperdalam oleh society-society dalam IEEE.

Mr M Ary Murti, sebagai chapter chairman, kemudian membacakan dan mendiskusikan laporan tahunan Comsoc chapter. Mr Arief Hamdani, IEEE Indonesia Section chairman, melanjutkan dengan diskusi tentang fasilitas dan peluang pengembangan bagi anggota IEEE. Para anggota senior (Prof Dadang Gunawan, Prof John Batubara, dan banyak lagi) meramaikan diskusi dengan berbagai cara mensinergikan kegiatan anggota; termasuk internal training, knowledge sharing, professional communications, perencanaan distinguished lecture programmes (DLP) yang lebih baik, dll. Pertemuan ditutup pukul 16.30 WIB.

IEEE Indonesia Section dan IEEE Indonesia Comsoc Chapter mengucapkan terima kasih kepada Telkom sebagai penyelenggara kegiatan ini. Juga disampaikan terima kasih untuk Member dan Senior Member yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Action plan akan dikirimkan melalui e-notice kepada setiap anggota yang hadir.

WOCN 2008

The fifth IEEE and IFIP International Conference WOCN2008 will be held in Surabaya, Indonesia, 5th of May through 7th of May, 2008. WOCN2008 is the fifth conference in its series aimed at stimulating technical exchange in the emerging and important field of Optical, mobile and wireless communications and networks. WOCN2008 seeks to address and capture highly innovative and state of the art research and work in the wireless and Optical industries. WOCN2008 seeks to address and capture highly innovative and state of the art research and work in the wireless and Optical industries.

The scope of the conference includes a wide range of technical challenges in view of the growing interest for wireless access to Internet and the evolution of third and fourth generation wireless and cellular systems included ITU IMT/UMTS. The conference also accepts progress on IST European Commission funded research projects. The Authors can present their finding on wireless quality of service, resource management, Ad Hoc and sensor networks. Radio interface design, adaptive antennas and arrays and indoor propagation, measurement and predictions also will be considered. A growing number of digital devices inside homes and the application of Ultra Wide Band (UWB), as well as Spectrum efficiency and low power consumption including low cost and secure wireless personal access are some of the areas to be considered in this conference. Optical communications networks are becoming increasingly important as the demand for high capacity links are required. Dense wavelength division multiplexing (DWDM) is widely deployed at the core networks to accommodate high capacity transport systems. Optical components, such as optical amplifier, tunable filters, transceivers, termination devices and add-drop multi-plexers are becoming more affordable and reliable. Access and metropolitan area networks are increasingly built with optical technologies to overcome the electronic bottleneck at network edges. New components and subsystems for high-speed optical networks offer new design options. The objective of this event is therefore to foster the exchange of information among researchers in this fast-moving field. The authors can present their finding on new Fibers, optical fiber gratings and devices, optical amplifiers, optical sensing and medical application of fiber optics and Opto-Electronics and microwave over optics.

WOCN2008 is sponsored and co-organized by Institut Teknologi Telekomunikasi (IT Telkom) and Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). It is sponsored and or in co-operation by IFIPTC6 WG6.8 (Mobile and Wireless Communications), WG6.6 (Management of Networks and Distributed Systems), WG6.10 (Photonic Networking), IEEE ComSoc Technical Committee on Information Infrastructure (TCII), IEEE ComSoc Wireless Communications Technical committee (WTC) and IEEE communications society (ComSoc) Asian Pacific, IEEE ComSoc Indonesian Chapter, and IEEE Indonesian Section.

Context Awareness

Aspek lain dari 4G, selain network, adalah pada service dan content. 4G diharapkan telah tergelar dengan service yang tertaut dengan baik dengan karakteristik dan kebutuhan user. Kebutuhan semacam ini mendorong dikembangkannya context awareness. Context awareness adalah kemampuan sebuah sistem untuk memahami si user, network, lingkungan, dan dengan demikian melakukan adaptasi yang dinamis sesuai kebutuhan.

Karakteristik dari user, network, lingkungan itu disebut konteks. Namun informasi konteks sendiri menjadi kompleks dan heterogen sesuai jenis layanan yang akan didukung. Maka context awareness menjadi masalah yang besar dan menarik dalam pengembangan aplikasi, khususnya mobile, beberapa tahun ke depan.

Beberapa bagian yang lebih sederhana dari context awareness telah mulai dibangun. Misalnya LBS: location-based service. Misalnya, sewaktu user mencari keyword tertentu (pom bensin, kafe, ATM, dll), maka ia akan memperoleh hasil yang berbeda tergantung pada posisi user. Ini dapat mulai digabungkan dengan beberapa info dari user. Misalnya pom bensin atau kafe di dekat posisi user yang menerima pembayaran dengan ATM yang dimiliki user.

Pengenalan lokasi ini juga memungkinkan hal menarik, seperti alarm berbasis tempat (bukan waktu). User dapat diminta diingatkan untuk melakukan sesuatu saat ia (atau gadget yang dipegangnya) memasuki rumah, kantor, atau lokasi yang diinginkan; tak tergantung dari waktu ia masuk. Pengenalan lokasi semacam ini bisa jadi mempersyaratkan pemanfaatan beberapa sistem: bukan misalnya tentang GPS (saja), tetapi bisa sekaligus flag dari layanan mobile / WiMAX atau access point WiFi yang diakrabi si user.

Kemungkinan komunikasi antar gadget, dan antar konteks, akan menjadi dimungkinkan. Alarm bisa diset misalnya, jika dua user (dua gadget) berdekatan (Alice minta diingatkan untuk membayar hutang jika dekat dengan Bob). Atau konteks lain, jika diinginkan. Misalnya setiap anggota IEEE dapat melakukan setting untuk mengenali anggota IEEE lain jika sedang berdekatan.

Karakteristik yang dimanfaatkan bisa sangat luas: lokasi, service di lokasi, terminal dan featurenya, operator dan featurenya, data penting personal, data personal yang tak terlalu penting, relasi antar personal, kondisi lingkungan (cuaca, kurs, jenis berita tertentu). Mungkin akan rumit. Namun ini akan menjadi salah satu yang akan membedakan 4G dengan 3G. Para provider akan mulai harus memanfaatkan AI, dan mengelola informasi konteks. Umumnya ini diistilahkan sebagai Context Information Dissemination System (CIDS).

PR di bidang ini masih sangat banyak. Jika sejauh ini baru layer IMS yang dikembangkan dan distandarkan (di layer kontrol & sinyal), maka berikutnya layer konten & aplikasi (C&A) harus dikembangkan dengan keseriusan yang sama. Layer C&A tidak dapat dipandang aman hanya karena telah terstandarkan pada layer di bawahnya, yang membuat mereka bebas tapi tetap interoperable. Context-aware services membuat layer ini harus dijaga dengan rancangan persinyalan yang sehati-hati persinyalan di layer IMS. Jika di network ada quality of service (QoS), maka di service ada quality of context (QoC).

DLP Prof Anthony Ephremides

Di akhir tahun 2007 ini, IEEE Comsoc Indonesia Chapter sekali lagi menggelar sebuah IEEE Distinguished Lecture. DLP kali ini diberikan oleh Prof Anthony Ephremides, dari University of Maryland. Beliau adalah mantan Presiden IEEE Information Theory Society, dan datang ke Jakarta sebagai bagian dari tur kuliahnya keliling Asia Tenggara.

euphremides-binus

Tema DLP adalah Cross-Layer Issued in Wireless Networks. Kuliah ini banyak menyoroti kasus-kasus dalam wireless network berelemen banyak (single hop dan multi hop), dimana akhirnya keputusan untuk membentuk jalinan network (pada layer fisik) akan berkait penuh dengan layer2 di atasnya (MAC, IP, dst). Tak sembarang cara dilakukan untuk melakukan cross-layering. Menurut Prof Ephremides, kita harus secara hati-hati mengamati interaksi antar layer, kemudian melakukan eksploitasi atasnya. Kuliah ini juga mengetengahkan ide tentang network coding.

Organiser kuliah ini adalah Mr Lukas Tanutama and Mr Wiejaya dari Universitas Bina Nusantara, Computer Engineering Department.

Tulisan-tulisan lain Prof Ephremides dapat disimak pada url www.hindawi.com/13692679.html.