-
IEEE P1902.1: Wireless Visibility Networks
Posted on February 15th, 2009 No commentsIEEE telah menyetujui standard wireless baru: IEEE 1902.1™, “Standard for Long Wavelength Wireless Network Protocol,” yang merupakan peningkatan dari protokol jaringan visibilitas yang dinamai RuBee™. RuBee adalah protokol transceiver yang bersifat dua arah, on-demand, peer-to-peer, beroperasi pada panjang gelombang di bawah 450 kHz. Protokol ini bekerja pada lingkungan keras dalam bentuk jaringan ribuan penanda (tag) yang berjangkauan 3 hingga 17 meter. Standar ini diharapkan dapat digunakan dalam bidang kedokteran untuk menangani pasien; serta untuk penanganan aset berharga, fasilitas pemerintahan, industri penerbangan, pengelolaan persenjataan, hingga hal-hal lain seperti aset bergerak, dan peternakan
.John K Stevens, Ketua Kelompok Kerja IEEE 1902.1 mengatakan, “RuBee tags are ideal in situations where bandwidth is not an issue, but where low cost, high tag count, long battery life and use in harsh environments, such as near steel and water, are critical performance criteria.”
IEEE 1902.1™ menawarkan protokol yang real-time dan mudah dicari (menggunakan tag). Pengalamatannya mirip alamat IP dengan subnet yang terkait kepada taksonomi aset. Kecepatan data hanya 300 hingga 9,600 Baud. Jaringan visibilitas RuBee dikelola menggunakan router Ethernet saja. Tag bisa dikelola melalui web, dan jika diperlukan dapat dibuat tercari melalui mesin pencari (seperti Google) atau melalui server nama tag “.tag” dari Visible Assets.
-
Report 2008
Posted on February 9th, 2009 No commentsIEEE Indonesia Section has recently submitted its annual report of the year 2008. Some of the activities mentioned that involved IEEE Comsoc Indonesia Chapter are:
IEEE Indonesia Section dan IEEE Indonesia Comsoc Chapter Meeting
- Venue: R&D Center of TELKOM INDONESIA, Bandung
- Date: 19th April 2008
- Organised by: IEEE Indonesia Comsoc Chapter and Telkom Indonesia
- Sponsored / supported by: IEEE Indonesia Section
WOCN 2008 (Wireless and Optical Communications Networks)
- Venue: Hyatt Hotel, Surabaya
- Date: 5th -7th May 2008
- Organized by: Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya
- Sponsored / supported by: IFIP and IEEE Indonesia Comsoc Chapter.
EECCIS 2008 (Electrical Power, Electronics, Communications, Control and Information)
- Venue: Universitas Brawijaya, Malang, East Java
- Date: June 3rd 2008
- Organised by: Universitas Brawijaya.
- Sponsored / supported by: IEEE Indonesia Comsoc Chapter.
IEEE Technical Tutorial on WiMAX
- Venue: Universitas Tarumanegara, Jakarta
- Date: 19st June 2008
- Host: Universitas Tarumanegara
- Sponsored / supported by: IEEE Indonesia Comsoc Chapter.
ICTEL 2008 ((International Conference on Telecommunications))
- Venue: Grand Preanger Hotel, Bandung
- Committee Chair: Muhammad Ary Murti, MT.
- Tutorial Chair: Mohamad Ramdhani, MT.
- Date: 19th – 21st August 2008
- Organised by: IEEE Indonesia Comsoc Chapter and IT TELKOM.
ASEAN Meeting
- Venue: Grand Preanger Hotel, Bandung
- Speakers: Dr. Marzuki Khalid, Dr. Norman Mariun, Arief Hamdani Gunawan, Noor Hasimah Baba, Joel Marciano, Jr.
- Date: 20th August 2008
- Host: IEEE Indonesia Section
- Sponsored / supported by: IT TELKOM, IEEE Indonesia Comsoc Chapter.

-
Standard IEEE 1900
Posted on February 9th, 2009 No commentsAwal Februari ini, IEEE Standard Association telah mengesahkan standar wireless IEEE 1900.4™, yaitu “Standard for Architectural Building Blocks Enabling Network-Device Distributed Decision Making for Optimized Radio Resource Usage in Heterogeneous Wireless Access Networks.” Standar ini menata pengelolaan resource pada blok-blok network dan perangkat wireless, serta informasi antar blok. paul Houzé, Ketua Kelompok Kerja IEEE 1900.4 melontarkan bahwa pada konteks network wireless ke depan, berbagai jenis akses radio (2G, 3G, B3G, Wireless LAN, dll) harus berjalan berdampingan (koeksistensi). Akibatnya diperlukan pengelolaan sumberdaya terkoordinasi lintas teknologi.
Standard IEEE 1900.4 merupakan bagian dari keluarga IEEE 1900 yang berisi berbagai dukungan untuk cognitive radio (CR), dynamic spectrum access (DSA), dan koeksistensi. Cognitive radio (CR) sering didefinisikan sebagai software-defined radio (SDR), yaitu saat perangkat radio mampu secara cerdas menentukan kebutuhan dan memilih sumberdaya radionya sesuai konteks. Sebelumnya, standard semacam WiFi (802.11), Zigbee (802.15.4), serta WiMAX (802.16) telah dilengkapi dengan level teknologi CR tertentu. Namun standard 802.22 akan menjadi standard internasional berbasis CR pertama. CR akan berkait erat dengan akses spektrum yang bersifat dinamis (DSA). Namun yang menarik tentu keterkaitan antara CR dan koeksistensi: pemilihan sumberdaya yang menentukan jenis akses radio sebuah komunikasi.
Kelompok kerja yang berfokus pada Dynamic Spectrum Access Networks (DSA) ini disebut IEEE Standards Coordinating Committee 41 (SCC41). Komite inilah yang mengerjakan standard IEEE 1900. Beberapa bagian dari standard itu adalah: IEEE 1900.1 menyusun konsep next generation radio systems dan spectrum management. IEEE 1900.2 merekomendasikan praktek koeksistensi dan interferensi. IEEE 1900.3 (target Feb 2011) mengevaluasi sistem radio dengan DSA. IEEE 1900.4 menyusun arsitektur sistem yang memungkinkan optimasi sumberdaya radio dalam jaringan heterogen. Kumpulan standard ini (lihat gambar) akan memungkinkan pengelolaan spektrum bersama antara jaringan yang paham CR dan yang belum paham CR.

Network reconfiguration management (NRM) berkomunikasi dengan terminal radio management (TRM) membentuk interoperabilitas antara jaringan2 radio tanpa infrastruktur. Perangkat yang komplian pada 1900.4 memungkinkan rekonfigurasi network dan terminal yang berikutnya memungkinkan pemindahan yang seharusnya tak terasa (seamless).
Direncanakan akan ada 1900.5 yang membahas bahasa policy, dan 1900.6 untuk RF sensing. Standar lain yang juga akan sudah mengadopsi soal CR, DSA, dan koeksistensi adalah 802.22 (Sep 2009), 802.19, 802.16h, 802.16m (atau disebut juga WiMAX II atau WiMAX next generation, Des 2009), serta 802.11y (Des 2009).










