Jan 31

Di akhir 2007, mobile market size di Indonesia, yang meliputi market selular dan market FWA, telah menembus angka 100 juta. Dari nilai sekian, hanya 10% dikuasai produk FWA (10,5 juta), dan sisanya (95,5 juta) dikuasai produk-produk selular. Perkiraan jumlah nomor (dalam ribu unit) dan market share per operator dipaparkan dalam gambar berikut.

ms-indonesia-2007.png

Dari sisi perangkat, suite GSM menguasai 94 juta nomor, dan suite CDMA menguasai 12 juta nomor. Namun hitungan ini amat kasar, dan belum memperhitungkan operator-operator yang baru tumbuh di akhir 2007, yaitu Sinar Mas dan Sampoerna.

Seperti tahun lalu, dominasi Telkomsel belum mampu didekati kompetitor. Produk kartu Halo, Simpati, dan Kartu As dari anak perusahaan Telkom (yang dikelola terpisah dari Telkom) ini masih dipercaya masyarakat dari sisi kualitas dan coverage. Indosat (Matrix, Mentari, IM3) dan Excelcomindo (Xplore, XL Bebas, XL Jempol) yang banyak melakukan perlombaan gimmick dan pricing belum mampu menjadi semenarik Telkomsel. Juga tekad Excelcomindo untuk menggeser posisi Indosat sebagai runner up masih menemui halangan yang cukup besar, walaupun inovasi operator ini sepanjang 2007 sudah jauh lebih baik daripada Indosat. Yang baru pada tahun 2007 adalah dimulainya komersialisasi teknologi 3G secara besar-besaran, setelah masa percobaan pada tahun 2006. Dilengkapi dengan HSDPA, 3G menjanjikan bukan saja kualitas telekomunikasi multimedia yang lengkap, tetapi juga data rate yang tinggi untuk Internet. Namun sayangnya, janji kecepatan tinggi berbagai operator itu belum mampu dipenuhi, dicerminkan dari banyaknya keluhan atas kecepatan Internet yang tak sesuai iklan dan janji. Tak urung, operator baru seperti 3 dan NTS langsung terjun mengusung teknologi 3G. Hasilnya baru akan bisa dibuktikan pada tahun 2008 ini.

Di pasar yang lebih kecil, pemain pasar FWA tak kurang garangnya. Pertarungan segitiga antara Flexi, Esia, dan StarOne untuk berebut ceruk pasar ini membuat terobosan pricing yang membuat pemain selular turut terkena getahnya. Sayangnya, permainan pricing membuat kualitas agak terabaikan. Esia (Bakrie) tidak pernah bisa memberikan Internet yang baik, dan Flexi (Telkom) mengalami gangguan panjang saat migrasi dari band 1,9 GHz ke 800 MHz. StarOne (Indosat) yang sempat dipuji, mulai menuai keluhan saat jumlah customer mulai meningkat, walaupun belum banyak.

Fren (Mobile-8), tadinya satu-satunya pemain seluler yang menggunakan teknologi CDMA, kini memperoleh pesaing langsung: Smart, dari Sinar Mas. Smart mengakhiri tahun dengan memberikan no charge atas on-net call hingga Maret 2008. Keseimbangan akhir akan diamati pada tahun 2008 ini.

Tahun 2007 juga menyaksikan keseriusan operator dalam memberikan layanan akses Internet kepada customer. Beberapa operator mengangkat feature Internet, dari sekelas feature, menjadi sebuah produk. Telkomsel Flash, Indosat 3.5, dan Bakrie Wimode merupakan contoh yang bisa disebut. Hal yang juga teramati adalah kerjasama antara operator mobile dengan ISP, baik untuk menjaga dan memperluas pasar, maupun untuk meningkatkan availabilitas produk. ISP Centrin, CBN, Radnet, Quasar bekerja sama dengan operator seperti Excelcomindo dan Mobile-8; baik dalam bentuk tunneling, inovasi produk bersama, maupun mpembentukan produk baru. MobileQU misalnya, adalah produk bersama dari Quasar dan Excelcomindo. Baik Indosat maupun Telkom Group lebih banyak melakukan kerjasama internal group mereka sendiri.

Prediksi 2008? Lisensi WiMAX sedikit banyak akan mengubah perilaku pasar. Juga para operator mulai sadar bahwa customer, sebagai agregasi, tidaklah mudah dipengaruhi hanya oleh pricing maupun gimmick baru, apalagi yang temporer. Pendekatan community akan mulai diseriusi setiap operator, untuk memperbesar costumer base dan daya pengaruh pada user baru.

Jan 29

Antara — Ditjen Postel Depkominfo menganggarkan 18 miliar pada 2008 untuk mengembangkan industri pita lebar (broadband) Wimax di Indonesia melalui program penelitian dan pengembangan produk domestik telekomunikasi bekerja sama dengan beberapa lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dari anggaran itu, 8M digunakan untuk membeli alat ukur penelitian dan software desain yang berlisensi, sementara 10M untuk honor dan biaya operasional.

Konon sebelumnya Ditjen Postel telah mengalokasikan Rp16 miliar yang telah digunakan Rp14 miliar pada 2006 untuk penelitian dan pengembangan teknologi Wimax. Program penelitian dan pengembangan produk domestik telekomunikasi Wimax melibatkan lembaga penelitian, beberapa perguruan tinggi dan industri telekomunikasi; antara lain BPPT dan LIPI dari lembaga penelitian, sementara perguruan tinggi yaitu ITB, UI, UGM, Universitas Hasanudin, dan ITS, serta industri yang cukup dekat Ditjen Postel, yaitu Hariff, INTI, Quasar, dan Solusindo Kreasi Pratama (SKP).

Penelitian pengembangan perangkat sistem radio Wimax ini dibagi menjadi empat kelompok besar yang terdiri dari kurang lebih 40 peneliti, di mana kelompok pertama dengan koordinator dari ITB akan mengembangkan desain chipset baseband dan control, kelompok kedua koordinator dari LIPI akan mengembangkan Radio Frekuensi dan base band, kelompok ketiga dengan koordinator dari UI akan mengembangkan antena untuk base station dan CPE dan kelompok ketiga dengan koordinator ITB akan mengembakan terminasi. Diharapkan sudah ada demo hasil penelitian pada Detiknas pada peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional Mei 2008 ini, dan penelitian benar-benar selesai pada akhir 2008 atau awal 2009. Hasil penelitian diharapkan berupa produk yang berkualitas dan murah yang dapat dikembangkan oleh industri dalam negeri sehingga menjadi produk pilihan operator telekomunikasi.

Pada tahap awal, industri dalam negeri akan mengembangkan perangkat sistem radio Wimax dengan menggunakan chipset produk asing dan tahun ini produk ini sudah dapat dioperasikan, kemudian industri dalam negeri akan mengembangkan perangkat system radio Wimax dengan chipset produksi Indonesia yang dikembangkan melalui penelitian. Produk lokal telekomunikasi ini perlu dikembangkan di Indonesia karena data menunjukkan perkembangan infrastruktur telekomunikasi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dengan belanja modal sekitar Rp40 triliun pada kurun waktu 2004-2005 dan jumlah ini semakin meningkatkan dari tahun ke tahun.  Dari total belanja total belanja infrastruktur telekomunikasi nasional tersebut, kontribusi industri manufaktur nasional hanya tiga persen, dan dari jumlah tiga persen tersebut, yang merupakan produk asli nasional hanya berkisar di angka 0,1 persen - 0,7 persen atau Rp1,2 miliar sampai Rp8,4 miliar.