Bisnis: Rencana peluncuran satelit Telkom-2 akhirnya harus ditunda menjadi pertengahan Februari 2005 dari jadwal semula bulan ini akibat belum tersedianya satelit pendamping pada roket peluncur Ariane 5 milik Arianespace. Kepala Divisi Long Distance PT Telkom Sarwoto Atmosoetarno mengatakan kesiapan BUMN itu untuk peluncuran satelit Telkom-2 sebenarnya sudah tidak ada masalah dan sudah sesuai dengan jadwal.
“Namun yang menjadi masalah adalah roket peluncur Ariane 5 membutuhkan co passenger, tidak hanya satelit Telkom-2 saja. Akibat persoalan itu, jadwal peluncuran akhirnya ikut tertunda,” ujarnya. Sementara bila roket Ariane 5 hanya meluncurkan satelit miliki Telkom, biaya yang dibutuhkan cukup mahal. “Ya solusinya yang diambil menunggu co-passenger tersebut. Sudah ada satelit milik pemerintah Prancis yang siap diluncurkan namun baru siap pertengahan Februari 2005.”
Satelit Telkom-2 sebenarnya harus meluncur tahun ini. Peluncuran satelit itu ditujukan untuk menggantikan Palapa B-4 yang habis masa operasinya pada Mei 2003 walau masih bisa diperpanjang umurnya menjadi April 2005. Sarwoto juga menjelaskan perusahaan telekomunikasi itu juga sudah menyiapkan beberapa kondisi darurat bila satelit Telkom-2 masih tetap mundur untuk jadwal peluncurannya. Beberapa pilihan itu antara lain pengalihan transmisi dengan menggunakan SKKL (Sistem Komunikasi Kabel Bawah Laut), SKSO (Sistem Komunikasi Serat Optik), dan gelombang mikro.
Menurut data Bisnis, peluncuran satelit Telkom-2 membutuhkan dana berkisar antara US$125 juta hingga US$200 juta termasuk di dalamnya biaya asuransi dan roket peluncur. Sebagian besar dana itu telah masuk capital expenditure 2004 PT Telkom.
Dana yang digunakan untuk pengoperasian Telkom-1 sekitar US$192 juta di mana US$15 juta diantaranya untuk asuransi, sedangkan lainnya mencakup biaya pembuatan satelit itu sendiri US$84,6 juta, jasa peluncuran US$90,144 juta, serta biaya jasa konsultan US$1,672 juta. Namun untuk penyediaan satelit Telkom-2, BUMN itu telah menunjuk dan menandatangani kontrak dengan Orbital Sciences Corporation AS.
Bila dilihat dari kegunaannya, kapasitas transponder satelit Telkom-2 nantinya akan dijual kepada pengguna di luar Telkom terutama kebutuhan pasar regional yang mencapai 70%. Sedangkan sisanya untuk kebutuhan sendiri.
Telkom-2 tidak hanya akan ditujukan untuk telekomunikasi, namun juga akses informasi dan komunikasi data layanan ritel seperti VSAT (very small aperture terminal) untuk komunikasi closed user group. (fh)